DENGAN NAMA ALLAH

DENGAN NAMA ALLAH

Halaman

Ingatan untuk ku dan kalian



وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.

Yang bermaksud:

Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar. (Surah Al-Asr, Ayat: 1 - 3).


Mari kita aminkan

Pengikut

Ahad, 30 September 2012

Darwis Tere Liya

 Rembulan Tenggelam di Wajahmu





 Saya meminati karya Darwis Tere Liya. Anak-anak yang memperkenalkan kepada saya.Memandangkan saya kurang berpeluang menjenguk toko-toko buku yang besar-besar,sedangkan buku-bukanya tidak sampai pasaran di daerah saya,jadi anak-anaklah yang membantu saya mendapatkannya. Pada sangkaan saya dahulu beliau ini seorang wanita,rupanya bukan. Saya mengikutinya di Facebook. Ideanya di wall facebook amat kena dengan selera saya.Sesungguhnya Allah menurunkan beliau untuk menilai tambah ilmu saya. Baru-baru ini beliau menulis diwall dengan panjang lebar. Diikuti berpuluh-puluh comment dan
like  oleh beratus-ratus orang juga. Saya salin dan tanpal di  bawah;




*saudara serumpun

Keluarga besar saya tinggal di pedalaman Sumatera. Sekarang, belasan tahun, saya merantau dan akhirnya menetap di Bandung. Karena sy dibesarkan langsung oleh adat istiadat, budaya pedalaman Sumatera, maka sejauh apapun sy merantau, semua kebiasaan itu masih melekat. Ber-pantun misalnya, sy suka sekali memasukkannya ke dalam novel2. Dan juga beberapa kebiasaan lainnya. Menyenang
kan melakukannya, dan besok lusa, anak kami mungkin akan mewarisi adat istiadat tersebut.

Setelah bertahun-tahun tinggal di Bandung, apakah saya dan anak kami bisa bilang bahwa itu tradisi kami juga? Tentu saja. Itu leluhur kami juga. Apakah boleh orang2 kampung saya di pedalaman Sumatera sana marah2, melarang saya mengaku2? Rasa2nya tidak, meski jauh dirantau, sy tetap saudara mereka. Benar2 saudara sedarah--meski anak cucu kami kelak, boleh jadi tdk merasa lagi saudara, justeru membenci.


Saya menggunakan ilustrasi ini untuk menjelaskan tentang: kenapa ada di antara kita yang begitu membenci Malaysia. Hari-hari ini, dengan situasi yg lebih tenang, sy ingin mengingatkan banyak orang. Semoga tanpa isu yg membuat bersitegang, penjelasan ini bisa lebih masuk akal.


Saya selalu saja memikirkan pertanyaan itu. Mengapa ada di antara kita yg sampai begitu membenci Malaysia? Apa yang telah dilakukan mereka hingga kita membenci begitu sangat? Apakah mereka telah menyakiti dan menzalimi kita? Apakah mereka benar2 telah mencuri budaya kita? Bukankah banyak warga negara Malaysia yg dulu berasal dari Indonesia. Bersaudara--dalam artian benar2 saudara sedarah-- dengan leluhur kita, meski anak cucunya boleh jadi tdk merasa saudara lagi.


Kalau alasannya soal tenaga kerja kita yang diperlakukan tidak manusiawi, maka penting sekali semua orang membuka data, ada 4,5 juta lebih buruh migran Indonesia di luar negeri, 2,6 juta ada di Malaysia. Isu perlindungan buruh migran ini menjadi konsen seluruh dunia, dan jelas ada banyak warga negara Malaysia yg tergerak hatinya ikut menyerukan agar negara mereka sendiri memperlakukan buruh migran lebih baik, menerapkan UU buruh yg lebih protektif, dsbgnya.


Atau alasannya karena mereka telah mengambil pulau kita lewat sebuah pengadilan internasional yang sah? Mencuri kekayaan laut kita? Atau alasan2 lainnya?


Penting sekali kita memiliki argumen kokoh jika ingin membenci habis2an sesuatu. Bukan karena ikut2an, karena trend dunia maya, dan sebagainya. Apalagi jika itu dilakukan dengan bahkan saat kita tdk mengenal sesuatu tersebut. Kenapa benci? Benci saja pokoknya. Kenal dengan sesuatu tersebut? Tahu persis kenapa harus benci? Tidak perlu, ngapain sy harus tahu mereka? Pokoknya saya benci? Pernah punya teman orang Malaysia? Pernah ke Malaysia? Bodo amat, sy benci. Jika itu yang terjadi, maka itu akan menyedihkan sekali.


Saya tidak punya alasan membenci Malaysia. Sy pikirkan berkali2 dari sudut pandang manapun, sy tidak punya alasan membenci mereka. Bahkan, karena sy tahu cerita2 leluhur, bagi sy, mereka adalah saudara. Mayoritas mereka, bahkan saudara sesama muslim.


Esok lusa, kalau saja lagi2, ada kejadian serupa yg memicu, maka selalu pikirkan baik2 sebelum menyebar komen, postingan, status yg berisi kebencian, provokasi, dsbgnya. Karena itu memiliki daya rusak yg besar sekali. Semoga tidak ada anggota page ini yang melakukannya, sy selalu berharap banyak kita selalu bisa lebih baik.
  
berikut adalah antara komen-komen peminatnya
Saya tidak terasa bahang kepanasan yang berlaku disana,iaitu tentang kebencian segelintir rakyat tanah asal usul saya itu.Saya juga tidak berminat untuk mengikuti blog-blog berkenaan.Siapa saya untuk mengulas.Biar Allah yang menilai. Orang jahat ada dimana-mana,bukan di sana atau disini sahaja.Sedangkan dalam keluarga sendiri pun ada yang berkira,tidak mahu berlebih kurang dan bertolak ansur.  Betul kata anak saya sebagaimana yang ditulis di dinding mukabukunya

Definisi hidup itu mudah.

"Buat apa yang Allah suruh,
dan tinggal apa yang Allah larang."

Tapi untuk memenuhi definisi itu adalah perjuangan sepanjang hayat.
 

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Catatan Popular